Teruntuk dirimu yang menulis dalam
kesendirian
Kupersembahkan karya kecilku untuk
menemani dirimu - R
Arthur
“Hidup ini penuh dengan puzzle, yang harus
kau lakukan adalah menempatkan mereka pada tempatnya dan kau akan tahu pada
akhirnya”
“hei Arthur, apa kau yakin dia akan melakukan aksinya malam ini?”
tanyaku dengan ragu pelakunya akan datang
“aku tidak yakin”
“Lalu kenapa kita melakukannya malam ini?”
“nandar sahabatku, kita bisa menduga apa yang akan orang lain
lakukan. Bagiku hal itu seperti kita bisa mengira tentang angin yang akan
datang kepada kita. Hal itu bisa kita ketahui dari seberapa besar perbedaan suhu
di suatu tempat. Tapi itu semua akan sia sia. Tergantung benda apa yang berada
didepanmu yang menghalangi angin untuk sampai ke tubuhmu dan membuatmu
kedinginan.” Jawab arthur sambil menunjukan baju hangat yang sedang aku
gunakan.
Malam ini memang lebih dingin dari malam sebelumnya. Aku tidak tahu
berapa derajat suhu sebenarnya. Mungkin karena aku selalu berdiam di dalam
ruangan hangat di rumah. Sambil meneguk minuman yang membuat diriku merasa
lebih hangat. Atau mungkin ini semua karena aku tidak ingin melakukannya malam
ini. Apa yang kita pikirkan mempengaruhi apa yang kita rasakan. Dan apa yang
kita rasakan mempengaruhi apa yang kita kerjakan, itu yang selalu sahabatku
arthur katakan disaat diriku sedang tidak melakukan pekerjaan dengan baik.
Aku sendiri enggan melakukan ini. Terlebih disaat aku sedang ingin
berdiam di rumah sambil menonton TV atau hanya sekedar duduk menunggu datangnya
kantuk jika sahabatku ini tidak mengajakku untuk melakukannya.
Sudah beberapa malam ini keluarga BaPa Imran merasa dirugikan oleh
seseorang yang datang ke gudangnya pada malam hari mengambil Tembakau olahan
pabriknya. Dan semalam adalah malam yang ke empat. Awalnya satu bal*, kamudian
dua, dua, lalu yang terakhir tiga bal. Itulah yang membuat bapa Imran merasa
kesal dan datang kepada kami untuk meminta bantuan.
Aku akan menceritakan apa yang sebenarnya terjadi dari awal agar
pembaca bisa melihat kasus ini dengan arif. Dan hal ini sesuai dengan yang
selalu sahabatku lakukan jika datang seorang klien kepada kami. Metode ini sama
dengan yang dilakukan oleh Sherlock Holmes dalam novel karangan Sir Arthur
Conan Doyle. Dia sering bilang terkadang orang selalu melewatkan hal yang
terpenting dari sebuah masalah, terlebih jika hal itu berada dalam ditel yang
sangat kecil dan sederhana. Dia selalu
mendengarkan para klien menceritakan permasalahan mereka terlebih dahulu. Bahkan
beberapa kasus yang kami jalani terkadang membuatku bingung dengan pertanyaan –
pertanyaan yang Arthur tanyakan kepada klien. Dia terkadang lebih memberi
perhatian kepada cuaca kota sebelah daripada memberikan perhatiannya kepada
klien kami. Masih ingat bagiku dia pernah memberikan nasehat untuk selalu
membawa baju cadangan yang disimpan didalam kantong pelastik.
Hari itu adalah hari kedua di bulan maret, bukan awal yang
menyenangkan bagiku. Hujan masih mengguyur tempat tinggal kami di kaki gunung
manglayang dan membuat seluruh jalan menuju jatinangor menjadi basah dan
dipenuhi oleh tanah yang terbawa air ke jalanan. Kondisi dimana seseorang enggan
membawa kendaraan yang telah ia cuci sebelumnya.
Pagi hari hujan turun sedikit demi sedikit. Membuat jendela basah
dan berembun karena perbedaan suhu diluar dan di dalam rumah. Matahari bersinar
lebih sedikit daripada hari sebelumnya karena terhalang oleh awan hujan. Bunga
dan pepohonan terlihat lebih segar dibasahi air hujan seperti wajah orang
berwudhu.
Saat seperti itu selalu membuat
semua orang enggan melakukan aktifitas diluar dan lebih memilih diam di rumah
agar tetap hangat tanpa harus basah. Aku sendiri lebih memilih berdiam diri di
rumah terlebih hari itu adalah hari minggu. Aku selalu mengisinya dengan
berdiam diri sambil menonton televisi mencari program favorite atau hanya
sekedar mencari informasi melalui internet. Dan seperti biasa sahabatku Arthur
hanya berdiam diri di ruangannya, menghabiskan waktu dengan buku – buku kimia,
kedokteran dan buku lainnya atau melakukan simulasi dan eksperimen dalam
pikirannya sambil menutup mata duduk dengan tangan menempel di dagunya.
Menurutnya hal itu membuat pikirannya tidak tumpul dengan cepat. Awalnya
menurutku dia terlalu banyak menonton televisi atau membaca buku yang aneh aneh
lainnya, namun ia lebih memperlihatkan kegunaannya dari melakukan hal hal
tersebut dibandingkan kesia siaan melakukannya.
“buka pintunya! Seseorang pasti membutuhkan kita sampai harus
melakukannya dipagi ini.” Kata arthur yang entah dari kapan berdiri
dibelakangku
“kenapa kau tidak membukanya sendiri? Kau yang sedang berdiri.”
“jika ini rumahku aku akan mempersilahkannya masuk dan sarapan
bersama kita sambil mendengarkan masalah yang sedang dialaminya.”
“terkadang aku sendiri bingung antara tuan rumah dan seorang
pembuka pintu hotel. Kebanyakan tamu yang datang ke rumahku selalu orang yang
ingin menemuimu. Aku ingin tahu apakah hubungan kita ini sama seperti orang
lain pada umumnya?” kataku sambil berusaha keras berdiri dari nyamannya duduk
di depan perapian.
“tergantun dari sudut mana yang kau ambil sebagai contoh.”
Setelah aku membukakan pintu, seseorang dengan perawakan pendek
mungkin sekitar seratus empat puluh enam telah berdiri disana. Tubuhnya yang
lebar serta gendut memberi kesan bantet. Wajahnya bulat dengan jenggot dan
kumis yang sudah mulai tumbuh karena mungkin sudah lama tidak mencukurnya sejak
terakhir kali mencukur. Namun dibalik wajahnya tersimpan kekesalan yang bisa
dilihat dari warna kulit yang sedikit memerah. Matanya yang merah
menperlihatkan keletihan karena kekurangan istirahat dimalam hari. Dilihat dari
perawakannya mungkin berumur lima puluhan
“Oh anda ternyata pa imran, apa gerangan yang membuat anda datang
ke rumahku ini?”
Sesaat ia memperhatikan ketidak ramahanku dengan kedatangannya ini.
Lalu berbicara
“maaf mengganggumu di pagi yang tidak menyenangkan ini. Apa Arthur ada?
Aku memiliki masalah yang membutuhkan bantuannya. Jika masalah ini masuk akal
olehku mungkin aku tidak perlu datang kesini dan membuatmu kesal.”
“Oh maafkan aku” kataku dengan menyesal telah memberikannya muka
masam
“tadi ada seorang yang menyebalkan mengganggu kenikmatan hari
liburku ini. Silahkan masuk. Dia ada di dalam.”
Dia berjalan mengikutiku dari belakang menuju ruang tengah dimana
sahabatku Arthur menunggu kami sambil duduk di tempatku tadi duduk dengan rokok
menyala di mulutnya.
“aku harap anda tidak terganggu dengan asap rokok ini. Terlebih
anda adalah pengusaha tembakau di sini. Atau mungkin anda lebih terganggu
dengan seseorang yang telah mencuri milik anda.”
“yah mungkin anda sudah mendengar percakapan kami tadi di depan.
Asap rokok anda tidak lebih mengganggu pikiran saya ketimbang masalah yang
sedang saya hadapi. Tapi bagai mana anda tahu tentang pencuri? Saya belum
berkata sampai sejauh itu pada anda.”
“kabar angin datang sama cepatnya dengan angin barat sendiri. Dan
anda telah menguatkannya dengan kedatangan anda pada kami. Sama sepertiku,
sahabat saya nandar yang selalu terlambat menyadari tanda psikologis
seseorangpun mungkin akan melihat kekesalan anda dari wajah anda dengan jelas.”
Aku menoleh kearah Arthur dengan sedikit terganggu dengan kalimat
terakhirnya itu. Arthut sendiri tidak terganggu dengan ketidak sukaanku ini dan
lebih memilih melanjutkan perkataannya.
“Anda mungkin sudah kelelahan karena tidak tidur semalaman menunggu
si pencuri, tapi saya harap anda tidak terlalu lelah untuk menceritakan kepada
kami dari setiap detil masalah yang anda alami.”
“saya tidak harus mengatakan masalah apa yang terjadi kepada anda
karena anda sudah mengetahuinya. Demi Tuhan jika masalah ini memang mudah bagi
seorang pengusaha tua seperti saya ini, saya tidak harus datang pada anda dan
membagi kekesalan saya ini.” Kata tamu kami ini dalam nada kesal bersamaan
dengan keletihannya
“Semua orang di daerah ini mungkin mengenali saya sebagai seorang
pengusaha tembakau mole. Memang usaha saya tidak terlalu besar dari perusahaan
lainnya, namun saat ini saya merasa senang dari kemajuan perusahaan yang
dilihat dari banyaknya pesanan kepada saya. Saya sendiri memiliki pelanggan di
beberapa tempat di kota Bandung. Seperti soreang, cimahi, caheum, tegalega dan
beberapa tempat lain. Tapi hal yang membuat saya bahagia adalah perkembangan
pesanan pelanggan kami di Banjar dan Sulawesi, mungkin tidak sesering
pengiriman di daerah Bandung. Tapi jika pesanan datang dari pelanggan saya di dua
jalur itu, puluhan juta rupiah dalam satu kali pengiriman membuat perusahaan
saya bisa membeli bahan baku untuk beberapa produksi kedepan. Dan sisanya cukup
bagi saya untuk membuat dapur di rumah terus menyala dan anak – anak dapat
menerima uang jajan mereka.”
“Rumah saya sendiri bisa dikatakan seperti huruf ‘n’. Garis yang
atas adalah rumah dua lantai. Lantai satu terdapat ruang tamu, ruang keluarga,
dapur, tiga kamar mandi, kamar tidur utama tempat saya dan istri saya biasanya
tidur serta toko perabotan milik anak pertama saya. Lalu lantai dua terdapat
satu ruang televisi, empat kamar tidur, satu kamar mandi, dan ruang yang
dipakai untuk gudang perabotan tepat berada di atas toko. Lalu garis tegak yang
ada di kiri adalah gerasi mobil dua lantai yang panjangnya setengah dari garis itu
sendiri, lantai kedua adalah tempat penyimpanan tembakau mentah yang digunakan
sebagai bahan olahan. Di bagian depan garis adalah gerasi tanpa atap, disana
sering digunakan untuk bongkar muat barang pabrik saya. Garis yang sebelahnya
adalah pabrik tembakau, disana adalah tempat proses pengolahan, setengah dari
bahan saya simpan di sana. hasil olahanpun sering di simpan di sana sebelum
pengiriman”
“mungkin bukan suatu
rutinitas yang terus- menerus, terkadang dalam seminggu saya mengirim enam kali
ke daerah bandung, namun jika sedang sepi mungkin saya hanya mengirim tiga kali
dalam seminggu. Daerah banjar dan sulawesipun saya kirim dua kali dalam sebulan
jika sedang ramai dan satu kali dalam sebulan jika sedang sepi.”
“minggu lalu adalah minggu yang cukup lelah bagi saya dan para
pekerja yang bekerja buat saya. Hari senin selasa dan rabu sudah dijadwalkan
untuk pengiriman ke daerah Bandung. Namun yang paling membuat kami merasa harus
mengejar target adalah pengiriman ke Banjar dan Sulawesi yang membutuhkan
ribuan bungkus dalam minggu yang sama. Karena itu kami bekerja lembur hampir
setiap hari. Bahkan saya melibatkan istri dan ketiga anak – anak membantu meski
hanya untuk membeli pelastik yang untuk dijadikan bungkus tembakau olahan
pabrik saya.”
“kesuksesan selalu berjalan bersama kerja keras yang tekun. Saya
sendiri bukanlah orang yang gampang menyerah, hal itu bisa dilihat dari
perjalanan perusahaan yang tidak sebentar. Kegagalan demi kegagalan sudah
menjadi ukiran yang halus dari kesuksesan yang telah saya capai jika kesuksesan
itu bisa kita anggap sebagai patung.”
“namun yang membuat saya kesal adalah kejadian hilangnya hasil
produksi pada hari kamis. Awalnya saya pikir karena kesalahan penghitungan saja
di hari sebelumnya. Karena itu saya memarahi pekerja saya karena kelalaiannya
dalam menghitung tembakau yang sudah di produksi. Saya menyuruh dia untuk
menghitung kembali dan menuliskannya di kertas lalu menyerahkannya kepada saya.
Saya sendiripun menyempatkan untuk menghitung kembali dimalam hari sebelum saya
pergi kekamar untuk tidur. Dan saya merasa kaget saat dipagi hari setelah
shalat subuh melihat tembakau yang sudah saya hitung sudah berkurang kembali.
Dan saya saat itu yakin jika ada seseorang masuk kerumah saya dan mencuri
produksi pabrik saya.”
“sedikit saja barang yang melenceng dari perhitungan membuat
produksi kami terhambat dan mengurangi keuntungan yang bisa saya dapatkan. Saya
harus memproduksi kembali dan tentunya dengan waktu dan biaya tambahan. Namun
saat itu saya terpaksa harus mengirim barang sebelum target produksi tercapai.
Pastinya akan ada elanggan yang kecewa karena permintaan mereka tidak kami
penuhi.”
“Jadwal saya minggu itu adalah mengirimkan barang ke daerah
Bandung. Saya memberi pesan kepada sopir saya alasan jika nanti ada pelanggan
kami yang komplain. Diapun berangkat untuk mengirim barang setelah saya mengisi
bon barang kiriman. Sayapun berharap tidak ada pelanggan saya yang memerasa
dirugikan nantinya. Bagi saya kepuasan pelanggan terhadap barang dan kinerja
kami adalah sesuatu yang sangat penting.”
“setelah dia kembali seperti biasa saya beserta anak saya yang
pertama memeriksa hasil penjualan kami pada hari itu. Kami memeriksa uang, dan
bon agar tidak ada yang terlewatkan. namun saya sedikit kaget ternyata ada
sedikit perubahan terhadap kuota barang yang kami kirim ke beberapa pelanggan.
Setelah saya menanyakan hal tersebut kepada supir saya, ternyata ada pelanggan
yang mengatakan barang kami masih ada jadi ia hanya meminta sedikit barang
untuk menambah saja. Memang untuk pelanggan saya yang itu kami tidak terlalu
berharap banyak karena sudah beberapa hari ini dia tidak menghubungi saya.
Namun saya masih mengiriminya barang karena pada saat itu memang jadwal
jalurnya. Sayapun tidak terlalu kecewa karena barang yang tidak dia ambil
ternyata diambil oleh pelanggan saya yang lainnya yang kebetulan pada saat itu
lebih membutuhkan.”
“kemarahan selalu masuk dalam diri saya selembut hidung bekerja
untuk mengambil nafas. Para pekerja dan keluarga sayapun mendapatkan satu atau
dua kemarahan saya itu. Saat Sore hari dari hari ketiga dari awal kejadian saya
menghalangi jalan masuk belakang rumah saya dengan drum.”
“Saya yakin si pelaku memakai jalan belakang rumah saya. Karena
memang jalan itulah yang paling masuk akal untuk menuju tempat penyimpanan
tembakau. Untuk melewati jalan itu si pelaku harus melewati persawahan yang
berputar cukup jauh dari rumah saya.”
“banyak jalan masuk untuk ke persawahan itu. Ada jalan masuk yang
berasal dari kampung sebelah. Namun yang paling dekat adalah jalan masuk dari
rumah kerabat saya. Yang jauhnya kurang lebih seratus meter dari rumah
saya.siapapun yang ingin ke rumah saya dari jalan belakang harus berputar terlebih
dahulu untuk menghindari rumah penduduk. Dan itu adalah kelemahan keamanan yang
ada pada rumah saya.”
“setelah melewati persawahan terdapat dua kolam ikan yang berbentuk
persegi panjang. Salah satunya memiliki luas sekitar lima puluh meter dan yang
satunya lagi sekitar tujuh puluh meter. Diantara kedua kolam ikan tersebut
terdapat jalan yang langsung menuju menuju pabrik. Lebar jalan tersebut kurang
lebih satu meter dan di sana terdapat tiga pohon mangga kecil yang jarak
diantaranya kurang lebih masing-masing 3 meter dan disanalah tempat dimana saya
menyimpan tong untuk menghalangi jalan menuju pabrik.”
“setelah yakin sudah cukup untuk menghalangi jalan, saya kembali ke
rumah dan beristirahat. Hari yang sangat melelahkan dengan semua pekerjaan dan
pikiran yang seharian saya alami. Air hangat dan makan malam yang istri saya
sediakan cukup untuk sementara mengisi tenaga saya, kemudian pada pukul delapan
saya mengecek bagian belakang rumah saya dengan hati hati menggunakan senter
yang saya pegang dengan tangan kanan dan kayu panjang yang ada di tangan kiri
saya.tidak ada yang berubah dan yang saya rasa aneh telah terjadi disana.
Setelah puas saya kembali masuk rumah dan pergi ke kamar untuk istirahat.”
“karena lelah, saya tidur pulas dan hampir enggan untuk bangun jika
tidak untuk sholat subuh. Saya pergi ke mesjid dan meninggalka istri saya sholat
di rumah sendirian. Setelah sholat, saya pulang ke rumah dan langsung memeriksa
keadaan jalan belakang rumah yang kemarin sudah saya halangi sebaik mungkin.
Menurut saya masih tidak ada perubahan yang berarti. Hal itu membuat saya
sedikit lebih tenang karena bisa jadi tidak ada lagi kejadian yang membuat
marah kembali. Namun hal itu berubah cepat setelah saya memeriksa dan
menghitung kembali tembakau yang ada di dalam pabrik. Entah mengapa hitungan
saya berbeda dari yang kemarin. Tidak puas satu dua kali, saya melakukannya
sebanyak tiga kali dan masih saja berbeda dari hitungan yang kemarin. Tidak
puas saya langsung membangunkan seisi rumah dan meminta anak saya yang kemarin
ikut menghitung untuk menghitungnya kembali. Dan ternyata iapun merasa heran karena
hitungannya sama seperti yang saya alami.”
“marah, kesal, dan bingung bercampur di kepala saya. Saya merasa
kepala ini tidak sanggup untuk diberikan satu lagi beban yang mungkin saja
membuatnya pecah. Bagaimana bisa dengan jalan yang saya halangi dan semua pintu
terkunci dari dalam dengan sangat rapat. Bagaimana mungkin si pencuri masuk
mengambil barang saya dan pergi dari sana tanpa meninggalkan jejak. Semua
kemungkinan saya pikirkan, namun kepala yang panas ini tidak bisa diandalkan
pada kondisi seperti itu. Anak-anak sayapun menyerah dan tidak menemukan
bagaimana caranya si pencuri licik ini masuk dan mencuri tembakau saya.
Seolah-olah ia mahluk gaib yang dapat menembus apapun untuk masuk dan keluar.”
“dengan saran dari istri, saya langsung menemui anda untuk meminta
bantuan anda. Kecepatan informasi pada ibu ibu sangatlah cepat.” Kata pa Imran
sambil mengatur posisi duduknya agar terasa lebih nyaman.
Sesaat terasa hening. Pa imran menatap penuh harap ke arah
sahabatku Arthur untuk dapat membantunya. Arthur sendiri tenggelam bersama
pikirannya dan sesaat kemudian menjawab permintaan Pa Imran.
“Baiklah pa imran, kami akan
membantu anda dalam masalah yang bapa sedang alami ini. Dan jika bapa berkenan,
kami akan ke rumah bapa sore nanti. Ada beberapa hal yang ingin saya
pastikan.” Pinta Arthur pada Pa Imran
“terimakasih Arthur. saya sangat berterimakasih karena anda akan
sangat saya butuhkan untuk memecahkan masalah yang sudah merusak dan membuat
saya seperti ini.”
“sama-sama Pa Imran semoga anda tidak terlalu mendapatkan denda
berlebihan untuk kreditan kendaraan anda.”
“bagaimana anda..”
“oh Pa Imran mungkin saran dari saya anda harus segera istirahat.
Secangkir teh hangat akan membuat anda sedikit nyaman.” Potongku sebelum Pa Imran menyelasaikan
pertanyaannya.
Aku meminun secangkir teh yang mulai dingin karena sudah lama
disimpan semenjak perbincangan kami sambil mempersilahkannya untuk meminum teh
miliknya. Terlebih aku tidak ingin melihat wajah kemenangan yang muncul dari
wajah arthur karena berhasil membuat orang lain heran. Mungkin inilah kenapa
sebagian orang pintar ingin membuat orang lain terlihat bodoh. Mereka
menyebutnya ‘Kepuasan Dari Tahu’
“oh ia terima kasih.” Pa Imran langsung meminum teh yang berada di
depannya
Kami melakukan sedikit perbincangan setelah Pa Imran kami
wawancara. Beberapa diantaranya mengenai jenis tembakau yang sering di tanam
oleh petani di sekitar Sumedang. Aku baru tahu jika ada beberapa warna tembakau
yang dihasilkan yang berasal dari beberapa cara pengeringannya. Beberapa
diantaranya tembakau warna merah, putih, hitam dan kuning. Aku mulai
mengaguminya dari perbincangan kami. Meskipun Pa Imran hanya lulusan SD, dia
dapat memiliki wawasan yang sangat luas. Terbukti dari perkembangan perusahaan
yang ia pimpin tidak mungkin jika seseorang dengan wawasan yang sedikit dapat
bertahan dengan perusahaan tembakau yang saat ini berada dalam kesulitan dengan
peraturan pemerintah yang memberatkan para pengusaha tembakau kecil dan
menengah sepertinya. Bukan hanya itu, beliau juga dekat dengan beberapa tokoh
penting yang berada di daerah.
“oh ia maaf. Saya ada janji untuk mengirim barang dengan pelanggan
tembakau saya dari Bandung. Mungkin lain kali kita bisa melanjutkan ngobrol
hangat seperti ini.” pintanya
“baiklah Pa Imran, silahkan.” Jawabku
“sekali lagi saya ucapkan terimakasih Arthur. Saat ini rasanya
permasalahan saya sudah mulai merasa ringan. Saya yakin anda pasti bisa
menangkapnya. Dan oh terimakasih nandar. Teh buatanmu sangat enak, kepala saya lebih ringan sekarang.”
Pa Imran pun pulang setelah perbincangan kami selesai. Sekarang dia
sudah hilang dari pandangan kami melalui jalan masuk yang tadi ia lewati.
Arthur kembali duduk dan berpikir sejenak sebelum saya kembali menikmati hangat
perapian dia sudah mengagetkanku dengan teriakannya.
“tidak ada dua hal yang berlawanan dapat saling sentuh jika tidak
ada hal yang membuatnya masuk akal.” Arhtur berteriak dengan gembira seperti
seorang anak yang baru saja diberi mainan oleh orang tuanya
“baiklah kau sudah senang rupanya. Apa rencanamu selanjutnya?”
“oh ia, baiklah, tidak, menarik, oke sudah diputuskan.” Dia bicara
sendiri sambil mondar mandir di depanku.
“apa yang kau lakukan?” tanyaku heran dengan yang dilakukannya
“oh maafkan aku karena sudah melupakanmu sahabatku.”
“tidak masalah. Jadi apa yang akan kita lakukan?”
“tidak ada. Aku akan kembali ke ruanganku dan melanjutkan apa yang
sudah aku tinggalkan tadi.”
“oke, dan nanti sore kita akan ke rumah Pa Imrankan?”tanyaku untuk
memastikan
“tentu, sesuai dengan yang aku katakan tadi.” Jawabnya padaku dan setelah
itu ia masuk ke ruangannya.
Pada sore harinya kami pergi ke rumah Pa Imran sesuai dengan yang
kami janjikan. Kami memeriksa tempat dimana stok tembakau disimpan. Memang
sulit untuk masuk jika termpat tersebut di kunci dari dalam. Pintu yang terbuat
dari kayu mahoni memang bukanlah bahan terbaik namun cukup kokoh dan sulit
untuk dibuka dengan paksa oleh satu orang. Yang mengherankan adalah tidak ada
tanda – tanda pernah dibuka secara paksa. Untuk kuncinya sendiri Pa Imran hanya
menggunakan kunci slot yang terbuat dari besi. Disana terdapat dua jendela yang
mengapit pintu keluar. Namun diantara pintu dan jendela yang satu terdapat
jarak sekitar satu meter lebih. Dan jarang pintu dan jendela yang satunya lagi
sekitar dua meter. Kedua jendela itu tanpa kaca hanya dihalangi oleh tralis
besi yang berbentuk daimond. Hanya cukup dimasuki oleh satu tangan.
Di sudut tembol lainnya yang berhadapan dengan pintu keluar
terdapat ventilasi kecil yang mungkin hanya dapat di masuki oleh satu orang,
dan orang tersebut pastinya harus memiliki tubuh yang kecil. Dibalik ventilasi
tersebut terdapat sungai yang memisahkan pabrik milik Pa Imran dengan beberapa
rumah warga lainnya. Tinggi ventilasi sendiri jika dijangkau dari sungai
tersebut kurang lebih sekitar delapan meter tingginya. Cukup berbahaya jika ada
seseorang yang ingin masuk melewati ventilasi ini. Terlebih temboknya sendiri
bergerigi tajam dan sangat licin.
Di dalamnya terdapat tempat penyimpanan tembakau dua tinggkat yang
dibuat dari papan kayu. Ada juga dua meja buatan yang digunakan untuk mengolah
tembakau. Pa Imran menjelaskan bahwa disanalah tempat pengolahan yang sekaligus
tempat penyimpanan tembakau sebelum tembakau itu di kirim kepada semua
pelanggannya.
“jadi disini tempat disimpan tembakaunya pa?” Tanyaku pada Pa Imran
“ia. Disinilah tempat semua tembakau yang karyawan saya olah.
Diatas meja adalah tempat penggabungan antara tembakau kulit dan tembakau untuk
sisi. Kemudian oleh mereka langsung dikemas kedalam bungkus yang sudah di cat
oleh merk dagang kami, kemudian kami beri pita cukai perbungkusnya sebelum kami
masukan kedalam wadah pelastik yang lebih besar.” Jelas Pa Imran sambil
menunjukan tempat dimana biasanya produksi itu dilakukan.
Aku melihat lihat sekitar ruangan sambil sesekali melirik kearah
sahabatku yang dari tadi berdiri di tengah ruangan. Ia belum melakukan
penelitian yang berarti terhadap tempat kejadian ini. Dia hanya berdiam diri
sambil memejamkan mata. Kemudian tidak lama kemudian dia berjalan ke arah
ventilasi. Memeriksanya dan menjulurkan kepalanya keluar untuk melihat seberapa
tinggi ventilasi tersebut dari sungai yang ada di bawahnya.
“apa anda sudah menanyakan warga tentang siapa yang pernah memakai
kamar mandi itu pada saat kejadian?” tanya Arthur kepada Pa Imran sambil menunjuk
arah dimana tempat tersebut
“aku tidak pernah menanyakannya secara langsung. Tapi anak
pertamaku yang pernah menanyakannya. kebetulan mereka kemarin pernah datang
kesini untuk berbelanja perabotan rumah
tangga, dan mereka mengaku tidak pernah melihat ada orang yang masuk melalui
jalan ini.”jelas Pa Imran
Setelah puas memeriksa ventilasi Arthur mulai memeriksa pintu
masuk. Dia menutup dan membuka pintu tersebut. Sesaat ia membiarkan pintu itu
tertutup dan memandang serius pada pintu itu. Kemudian dia menoleh ke arah
kedua jendela yang berada di sisi kanan dan kiri pintu itu.
“Apa kunci yang kau gunakan untuk menutup pintu ini? Salah satu
atau keduanya?”tanyaku
“hanya dengan kunci slot yang kau lihat itu.”jawab Pa Imran “kunci pintunya
sendiri sudah lama tidak berfungsi. Oleh karena itu saya hanya memakai kunci
slot saja.”
Arthur menaiki papan yang merupakan tempat penyimpanan bahan baku
tembakau. Dia mendongakkan kepalanya memeriksa langit langti yang ada.
Terkadang dia duduk dari sana memandang kesegala arah ruangan.
“baiklah saya sudah selesai di sini tunjukan pada kami jalan yang
Pa Imran katakan.” Kata Arthur
“baiklah. Ke arah sini.”ajak Pa Imran
Pa Imran menunjukan jalan yang terdapat diantara dua kolam ikan
tersebut. Arthur memeriksa jalan yang masih dihalangi oleh drum itu. Ia melih
secara serius terhadap jalan itu dari dekat. Memeriksa drum dan mencoba
menggeser - geserkan drum itu. Drum itu terdengar sangat berisik jika di geser.
Mungkin jika di dengar saat malam hari suara drum ini sangat mengganggu semua
orang yang sedang istirahat.
“anda pernah mendengar kegaduhan seperti ini pada malam
hari?”tanyaku
“tidak pernah. Jika ia, pastinya saya sendiri akan terbangun dan
langsung berlari memeriksanya.”tegas Pa Imran
“baiklah. Sudah semua. Aku akan pulang.” Kata Arthur tiba tiba
“sudah?” Pa Imran kecewa seakan
mengharapkan sesuatu yang lainnya.
“kau yakin kita sudah melihat semuanya?” tanyaku
“sudah. Aku sudah memeriksa yang aku butuhkan. Baiklah jika anda
mengijinkan Pa Imran sayan minta ijin karena ada hal lain yang ingin saya
kerjakan.”
“anda yakin tidak ada yang anda periksa lagi?”
“saya melakukan apa yang saya butuhkan. Tidak ada yang harus lakukan lagi disini saat ini.”
“baiklah, saya percaya sama anda jika anda yakin tidak ada lagi.”
Akhirnya kami kembali ke rumahku setelah memeriksa tempat kejadian
itu. Arthur langsung masuk ke ruangannya dan tidak mengatakan apapun mengenai
pemeriksaan tadi. Aku sendiri tidak kaget dengan tingkah lakunya karena sudah
tahu bagai mana metode yang dia gunakan.
Pada malam harinyapun tidak ada perbincangan yang kami lakukan yang
berhubungan dengan kasus yang sedang kami lakukan. Kami makan malam bersama dan menghabiskan
malam membicarakan perbincangan ringan mengenai pemilu yang sebentar lagi akan
di laksanakan. Arthur sendiri lebih banyak mendengarkan pendapatku daripada
memberikan pendapatnya. Memang dia tidak tertarik dengan dunia politik, dia
hanya tertarik dengan hal-hal yang membuatnya bekerja sesuai yang dia harapkan.
Setelah berbincang dia langsung masuk ke ruangannya , Aku sendiri langsung
istirahat karena merasa sudah mulai lelah.
Pagi hari Hujan tidak turun seperti hari kemarin. Artur sudah pergi
lebih awal sebelum sarapan. Dia tidak meninggalkan pesan apapun untukku. Aku
sendiri memiliki banyak kerjaan yang harus aku selesaikan. Tugas kampus yang
harus aku selesaikan dalam waktu satu hari cukup menyita pikiranku. Sedikit
demi sedikit harus aku selesaikan hari ini.
-----/\/\/\-----
Tidak terasa sudah tiga hari Arthur tidak pulang ke rumah ini.
Akupun bertanya dalam pikiran apa yang sedang dia lakukan selama beberapa hari
dia pergi. Hingga pada pagi keempat dia pulang dengan wajah bahagia dia
berteriak seakan sudah mendapatkan hadiah yang sangat dia inginkan.
“akhirnya ada satu hal yang
bermanfaat yang bisa menghiburku di pagi yang cerah ini. Pakailah baju favoritemu
sahabatku. Kita akan sedikit berbelanja siang ini.” Diapun langsung masuk ke ruangannya
“belanja? Untuk apa? Kemarin aku sudah belanja untuk keperluan kita
selama kau pergi. Dan seharusnya kemarin adalah tugasmu.” Tanyaku heran karena dia
mengatakannya tiba tiba.
“maafkan aku karena sudah meninggalkan jadwal yang sudah kau buat.
Tapi kita akan belanja untuk makanan ikan yang akan kita pancing untuk kali ini.”
Kata arthur
Kami berangkat menggunakan mobilku ke satu daerah di kota Bandung.
Seperti biasanya kota ini sedikit macet di beberapa titik. Banyak kendaraan
yang saling menyelip dan banyak kendaraan umum yang berhenti sembarangan untuk
menaikkan ataupun menurunkan penumpang. Terpikir olehku tentang banyaknya janji
yang dilontarkan oleh pemerintah yang salah satunya mengurangi angka kemacetan.
Mungkin mereka akan gagal jika masyarakatnya sendiri tidak ingin bersikap
teratur.
Arthur sendiri lebih banyak diam di belakang. Berperan seperti
seorang penumpang dan aku sendiri supirnya. Yah permainan majikan dan pekerja
sepertinya masih berlanjut.
“hei, kenapa kau tidak duduk di depan?” kataku
“aku lebih suka di belakang. Kursinya lebih luas.”jawabnya
“oke, lalu kenapa kita kemari?”
“kau mungkin melewatkan sesuatu. Tapi menurutku kita akan
mendapatkan umpan yang cocok untuk tangkapan kita di sini.”
Tidak lama kemudian kami berhenti di depan sebuah pasar
tradisional. Kami turun dari mobil lalu berjalan beberapa meter hingga
sampailah kami di suatu toko kelontongan yang menjual beberapa jenis tembakau
mole. Salah satunya adalah tembakau mole yang di jual oleh Pa Imran.
Tokonya tidak terlalu besar. Mungkin hanya seluas 5x6 m2.
Disana saat itu hanya ada satu orang lelaki paruh baya yang melayani para
pembeli. Orang tersebut kira kira memiliki tinggi 160cm. Perawakannya tidak
gendut tapi juga tidak bisa dibilang kurus. Rambutnya pendek dan sudah mulai
ditumbuhi oleh beberapa helai uban.
“pa saya temannya Deni, saya pernah mengantarkan barang ke tempat
bapa.” Kata Arthur tiba-tiba.
“ia,” jawab penjaga toko itu sambil berpikir seolah ia tidak yakin
dengan ingatannya sendiri.
“saya ingin menagih hutang
yang sudah bapa janjikan hari ini.”
“apa maksudnya ini? Saya sudah membayarnya lima hari yang lalu
secara kontan. Semuanya sebanyak tiga bal.”
“tapi kata dia bapa belum membayarnya.” Arthur bersikeras dengan
yang ia katakan
“kamu yang salah. Saya bilang saya sudah membayarnya.”
“oh, terima kasih.” Jawab
Arthur singkat kemudian ia pergi meninggalkan penjaga toko yang masih bingung
dengan semua kejadian yang sangat tak terduga. Akupun menyusulnya dengan semua
pertanyaan yang masih berada dikepalaku, bagaimana dia tahu tempat ini dan tadi
ia bersikeras dengan apa yang ia katakan dan sekarang ia menyerah begitu saja.
“orang tidak ingin ditanya
dengan berlebihan. Mereka senang membantah terlebih jika mereka memang benar.”
“ayo kita pulang dan langsung ke rumah Pa Imran setelah makan
malam. Kita harus makan secukupnya agar kita tidak mengantuk. Mungkin kita juga
harus membawa beberapa pakaian yang hangat agar kita tidak terlalu kedinginan
di cuaca seperti ini.” Kata Arthur
------/\/\/\------
Itulah kisah yang bisa aku sampaikan hingga bagaimana kami bisa
berdiam di rumah Pa Imran pada malam hari ini. Menunggu dengan menajamkan semua
indra kami. Berharap kami dapat mendapatkan buruan kami. Aku sendiri
mengumpulkan semua tenaga yang tersisa untuk selalu terjaga. Berdiam diri tanpa
melakukan apapun seperti dalam kondisi seperti ini lebih menyebalkan dengan
gangguan yang seri Arthur berikan padaku. Beberapa kali aku menyempatkan
melirik keadaan Arthur yang sambil menutup matanya. Sejenak aku berpikir dia
sudah tidur. Namun nafasnya yang teratur memberikan petunjuk bahwa dia masih
sadar dengan semua indra yang ia persiapkan untuk perubahan yang mungkin saja
terjadi secara tiba-tiba.
Angin terasa lebih dingin
dari sebelumnya. Seolah pakain tiga lapisku pun kurang memberikan kehangatan
yang pantas pada tubuhku ini. Jam tanganku menunjukan pukul tiga dini hari.
Keraguanku atas keberhasilan dari apa yang kami lakukan mulai merasuki
keyakinanku.
“kau mungkin sudah berencana
seperti ini. Semua rencanamu kau persiapkan bersama solusi terhadap permaalahan
yang akan kau temui. Namun selalu ada kekuatan lain yang bisa menghalangi
rencanamu. Disanalah kesabaranmu akan diuji untuk sebuah hasil yang ingin kau
dapatkan sahabatku.” Ucap Arthur pelan berusaha agar tidak lebih kencang dengan
suara angin yang terdengar lebih jelas daripada saat kami tidak melakukan
pengintaian seperti ini.
“dan sekarang kau tidak yakin dengan semua rencana yang susun untuk
malam hari ini.” Kataku
Hari menjelang pagi. Malam ini kami tidak mendapatkan buruan kami.
Hanya lelah menunggu semalaman yang kami dapatkan. Aku langsung pulang bersama
Arthur setelah kami pamit. Sesaat aku lihat Arthur murunng, mungkin dia merasa
kesal dengan semua perhitungannya yang saat ini tidak tepat.
Saat pulang Arthur hanya menghabiskan berdiam diri dan tidak
mengatakan apapun. Dia hanya berdiam diri. Dalam perjalanan kami melewati
beberapa kolam kecil yang sangat jelas terlihat dari dalam mobil. Beberapa kolam
diantaranya sangat penuh dengan pemancing. Aku sendiri tidak terlalu suka
memancing. Dulu aku pernah diajak memancing oleh temanku di kolam miliknya,
akupun tidak terlalu banyak mendapatkan ikan. Sering sekali saat aku menarik
pancingan yang terlihat sudah di makan ikan selalu lepas kembali. Dia
memberitahuku bahwa aku mengangkat sebelum waktunya.
Saat hampir sampai ke rumah Arthur tiba tiba memintaku agar tidak
langsung pulang. Dia memintaku untuk kembali membawa mobil untuk menuju toko
yang pernah kami kunjungi. Selama perjalanan Arthur sibuk dengan catatan yang
baru aku sadari dia bawa sesekali dia memeriksa seluler dan memberi pesan yang
entah ia kirimkan pada siapa.
Setelah hampir sampai kami memarkirkan mobil di tempat yang sama
seperti saat waktu itu.
“kita tunggu disini sebentar.”
“sebenarnya apa yang sedang kau rencanakan? Kita belum istirahat
sama sekali.” Tanyaku
“kau istirahat saja dulu kalau begitu. Nanti akan aku bangunkan
kalau sudah waktunya. Dan Pa Imran mungkin saja akan sampai ke sini pada
waktunya setelah dia memeriksa tembakau yang mungkin dia baru akan sadari sudah
ada yang hilang.”
Aku terkaget dengan apa yang dia katakan. Bagaimana mungkin hal itu
terjadi terlebih semalaman kami berdua menunggu di sana. Dan tidak mendengar
apapun.
“apa maksudmu? Tidak mungkin tembakau itu hilang? Bukankan kita ada
disana.”
“mungkin kau harus menanyakan hal itu kepadanya.”
Tiba-tiba ada seseorang yang berjalan ke arah toko yang akan kami
datangi. Dan betapa kagetnya saat aku lihat dia sedang membawa tembakau yang
aku yakini milik Pa Imran.
“ayo kita keluar dan mengikutinya dari belakang sampai ke toko
itu.”
“bagaimana kau tahu dia akan kesini sekarang?” heranku
“Hidup ini penuh dengan
puzzle, yang harus kau lakukan adalah menempatkan mereka pada tempatnya dan kau
akan tahu pada akhirnya” jawabnya. “dan satu hal lagi, beberapa orang mencuri
karena kebutuhan mereka, dan beberapa orang lagi mencuri karena keserakahan
mereka. Tugas kita adalah menjaga diri dan orang sekitar dari keserakahan yang
akan merusak dan merugikan diri kita dan orang lain”
Kamipun mengikutinya sampai toko itu dan sebelum dia memberikan
tembakau itu, Pa Imran datang bersama supirnya beserta anak keduanya. Dia
datang dengan heran beserta kesal karena tahu orang yang menjadi pencuri yang
membuatnya kesal adalah Deni yang tidak lain adalah kerabat dekatnya.
“aku tahu kalian semuanya heran dan memiliki banyak pertanyaan yang
sangat ingin kalian tanyakan. Aku sendiri tidak suka untuk menjelaskannya dua
kali. Nanti akan ku sampaikan setelah aku pulang dan beristirahat terlebih
dahulu.”
Aku dan Arthur pulang terlebih dahulu meninggalkan Pa Imran dan
yang lainnya untuk menyelesaikan sisanya di toko tersebut.
“Mungkin akan nyaman saat pulang aku mandi dengan air
hangat.”katanya dan setelah itu dia terlelap tidur hingga kami sampai di rumah.
--------------TAMAT----------------