Sabtu, 22 Maret 2014

Arthur

Teruntuk dirimu yang menulis dalam kesendirian
Kupersembahkan karya kecilku untuk menemani dirimu - R


  




Arthur




“Hidup ini penuh dengan puzzle, yang harus kau lakukan adalah menempatkan mereka pada tempatnya dan kau akan tahu pada akhirnya”



“hei Arthur, apa kau yakin dia akan melakukan aksinya malam ini?” tanyaku dengan ragu pelakunya akan datang
“aku tidak yakin”
“Lalu kenapa kita melakukannya malam ini?”
“nandar sahabatku, kita bisa menduga apa yang akan orang lain lakukan. Bagiku hal itu seperti kita bisa mengira tentang angin yang akan datang kepada kita. Hal itu bisa kita ketahui dari seberapa besar perbedaan suhu di suatu tempat. Tapi itu semua akan sia sia. Tergantung benda apa yang berada didepanmu yang menghalangi angin untuk sampai ke tubuhmu dan membuatmu kedinginan.” Jawab arthur sambil menunjukan baju hangat yang sedang aku gunakan.
Malam ini memang lebih dingin dari malam sebelumnya. Aku tidak tahu berapa derajat suhu sebenarnya. Mungkin karena aku selalu berdiam di dalam ruangan hangat di rumah. Sambil meneguk minuman yang membuat diriku merasa lebih hangat. Atau mungkin ini semua karena aku tidak ingin melakukannya malam ini. Apa yang kita pikirkan mempengaruhi apa yang kita rasakan. Dan apa yang kita rasakan mempengaruhi apa yang kita kerjakan, itu yang selalu sahabatku arthur katakan disaat diriku sedang tidak melakukan pekerjaan dengan baik.
Aku sendiri enggan melakukan ini. Terlebih disaat aku sedang ingin berdiam di rumah sambil menonton TV atau hanya sekedar duduk menunggu datangnya kantuk jika sahabatku ini tidak mengajakku untuk melakukannya.
Sudah beberapa malam ini keluarga BaPa Imran merasa dirugikan oleh seseorang yang datang ke gudangnya pada malam hari mengambil Tembakau olahan pabriknya. Dan semalam adalah malam yang ke empat. Awalnya satu bal*, kamudian dua, dua, lalu yang terakhir tiga bal. Itulah yang membuat bapa Imran merasa kesal dan datang kepada kami untuk meminta bantuan.
Aku akan menceritakan apa yang sebenarnya terjadi dari awal agar pembaca bisa melihat kasus ini dengan arif. Dan hal ini sesuai dengan yang selalu sahabatku lakukan jika datang seorang klien kepada kami. Metode ini sama dengan yang dilakukan oleh Sherlock Holmes dalam novel karangan Sir Arthur Conan Doyle. Dia sering bilang terkadang orang selalu melewatkan hal yang terpenting dari sebuah masalah, terlebih jika hal itu berada dalam ditel yang sangat kecil dan sederhana.  Dia selalu mendengarkan para klien menceritakan permasalahan mereka terlebih dahulu. Bahkan beberapa kasus yang kami jalani terkadang membuatku bingung dengan pertanyaan – pertanyaan yang Arthur tanyakan kepada klien. Dia terkadang lebih memberi perhatian kepada cuaca kota sebelah daripada memberikan perhatiannya kepada klien kami. Masih ingat bagiku dia pernah memberikan nasehat untuk selalu membawa baju cadangan yang disimpan didalam kantong pelastik.
Hari itu adalah hari kedua di bulan maret, bukan awal yang menyenangkan bagiku. Hujan masih mengguyur tempat tinggal kami di kaki gunung manglayang dan membuat seluruh jalan menuju jatinangor menjadi basah dan dipenuhi oleh tanah yang terbawa air ke jalanan. Kondisi dimana seseorang enggan membawa kendaraan yang telah ia cuci sebelumnya.
Pagi hari hujan turun sedikit demi sedikit. Membuat jendela basah dan berembun karena perbedaan suhu diluar dan di dalam rumah. Matahari bersinar lebih sedikit daripada hari sebelumnya karena terhalang oleh awan hujan. Bunga dan pepohonan terlihat lebih segar dibasahi air hujan seperti wajah orang berwudhu.
 Saat seperti itu selalu membuat semua orang enggan melakukan aktifitas diluar dan lebih memilih diam di rumah agar tetap hangat tanpa harus basah. Aku sendiri lebih memilih berdiam diri di rumah terlebih hari itu adalah hari minggu. Aku selalu mengisinya dengan berdiam diri sambil menonton televisi mencari program favorite atau hanya sekedar mencari informasi melalui internet. Dan seperti biasa sahabatku Arthur hanya berdiam diri di ruangannya, menghabiskan waktu dengan buku – buku kimia, kedokteran dan buku lainnya atau melakukan simulasi dan eksperimen dalam pikirannya sambil menutup mata duduk dengan tangan menempel di dagunya. Menurutnya hal itu membuat pikirannya tidak tumpul dengan cepat. Awalnya menurutku dia terlalu banyak menonton televisi atau membaca buku yang aneh aneh lainnya, namun ia lebih memperlihatkan kegunaannya dari melakukan hal hal tersebut dibandingkan kesia siaan melakukannya.
“buka pintunya! Seseorang pasti membutuhkan kita sampai harus melakukannya dipagi ini.” Kata arthur yang entah dari kapan berdiri dibelakangku
“kenapa kau tidak membukanya sendiri? Kau yang sedang berdiri.”
“jika ini rumahku aku akan mempersilahkannya masuk dan sarapan bersama kita sambil mendengarkan masalah yang sedang dialaminya.”
“terkadang aku sendiri bingung antara tuan rumah dan seorang pembuka pintu hotel. Kebanyakan tamu yang datang ke rumahku selalu orang yang ingin menemuimu. Aku ingin tahu apakah hubungan kita ini sama seperti orang lain pada umumnya?” kataku sambil berusaha keras berdiri dari nyamannya duduk di depan perapian.
“tergantun dari sudut mana yang kau ambil sebagai contoh.”
Setelah aku membukakan pintu, seseorang dengan perawakan pendek mungkin sekitar seratus empat puluh enam telah berdiri disana. Tubuhnya yang lebar serta gendut memberi kesan bantet. Wajahnya bulat dengan jenggot dan kumis yang sudah mulai tumbuh karena mungkin sudah lama tidak mencukurnya sejak terakhir kali mencukur. Namun dibalik wajahnya tersimpan kekesalan yang bisa dilihat dari warna kulit yang sedikit memerah. Matanya yang merah menperlihatkan keletihan karena kekurangan istirahat dimalam hari. Dilihat dari perawakannya mungkin berumur lima puluhan
“Oh anda ternyata pa imran, apa gerangan yang membuat anda datang ke rumahku ini?”
Sesaat ia memperhatikan ketidak ramahanku dengan kedatangannya ini. Lalu berbicara
“maaf mengganggumu di pagi yang tidak menyenangkan ini. Apa Arthur ada? Aku memiliki masalah yang membutuhkan bantuannya. Jika masalah ini masuk akal olehku mungkin aku tidak perlu datang kesini dan membuatmu kesal.”
“Oh maafkan aku” kataku dengan menyesal telah memberikannya muka masam
“tadi ada seorang yang menyebalkan mengganggu kenikmatan hari liburku ini. Silahkan masuk. Dia ada di dalam.”
Dia berjalan mengikutiku dari belakang menuju ruang tengah dimana sahabatku Arthur menunggu kami sambil duduk di tempatku tadi duduk dengan rokok menyala di mulutnya.
“aku harap anda tidak terganggu dengan asap rokok ini. Terlebih anda adalah pengusaha tembakau di sini. Atau mungkin anda lebih terganggu dengan seseorang yang telah mencuri milik anda.”
“yah mungkin anda sudah mendengar percakapan kami tadi di depan. Asap rokok anda tidak lebih mengganggu pikiran saya ketimbang masalah yang sedang saya hadapi. Tapi bagai mana anda tahu tentang pencuri? Saya belum berkata sampai sejauh itu pada anda.”
“kabar angin datang sama cepatnya dengan angin barat sendiri. Dan anda telah menguatkannya dengan kedatangan anda pada kami. Sama sepertiku, sahabat saya nandar yang selalu terlambat menyadari tanda psikologis seseorangpun mungkin akan melihat kekesalan anda dari wajah anda dengan jelas.”
Aku menoleh kearah Arthur dengan sedikit terganggu dengan kalimat terakhirnya itu. Arthut sendiri tidak terganggu dengan ketidak sukaanku ini dan lebih memilih melanjutkan perkataannya.
“Anda mungkin sudah kelelahan karena tidak tidur semalaman menunggu si pencuri, tapi saya harap anda tidak terlalu lelah untuk menceritakan kepada kami dari setiap detil masalah yang anda alami.”
“saya tidak harus mengatakan masalah apa yang terjadi kepada anda karena anda sudah mengetahuinya. Demi Tuhan jika masalah ini memang mudah bagi seorang pengusaha tua seperti saya ini, saya tidak harus datang pada anda dan membagi kekesalan saya ini.” Kata tamu kami ini dalam nada kesal bersamaan dengan keletihannya
“Semua orang di daerah ini mungkin mengenali saya sebagai seorang pengusaha tembakau mole. Memang usaha saya tidak terlalu besar dari perusahaan lainnya, namun saat ini saya merasa senang dari kemajuan perusahaan yang dilihat dari banyaknya pesanan kepada saya. Saya sendiri memiliki pelanggan di beberapa tempat di kota Bandung. Seperti soreang, cimahi, caheum, tegalega dan beberapa tempat lain. Tapi hal yang membuat saya bahagia adalah perkembangan pesanan pelanggan kami di Banjar dan Sulawesi, mungkin tidak sesering pengiriman di daerah Bandung. Tapi jika pesanan datang dari pelanggan saya di dua jalur itu, puluhan juta rupiah dalam satu kali pengiriman membuat perusahaan saya bisa membeli bahan baku untuk beberapa produksi kedepan. Dan sisanya cukup bagi saya untuk membuat dapur di rumah terus menyala dan anak – anak dapat menerima uang jajan mereka.”
“Rumah saya sendiri bisa dikatakan seperti huruf ‘n’. Garis yang atas adalah rumah dua lantai. Lantai satu terdapat ruang tamu, ruang keluarga, dapur, tiga kamar mandi, kamar tidur utama tempat saya dan istri saya biasanya tidur serta toko perabotan milik anak pertama saya. Lalu lantai dua terdapat satu ruang televisi, empat kamar tidur, satu kamar mandi, dan ruang yang dipakai untuk gudang perabotan tepat berada di atas toko. Lalu garis tegak yang ada di kiri adalah gerasi mobil dua lantai yang panjangnya setengah dari garis itu sendiri, lantai kedua adalah tempat penyimpanan tembakau mentah yang digunakan sebagai bahan olahan. Di bagian depan garis adalah gerasi tanpa atap, disana sering digunakan untuk bongkar muat barang pabrik saya. Garis yang sebelahnya adalah pabrik tembakau, disana adalah tempat proses pengolahan, setengah dari bahan saya simpan di sana. hasil olahanpun sering di simpan di sana sebelum pengiriman”
 “mungkin bukan suatu rutinitas yang terus- menerus, terkadang dalam seminggu saya mengirim enam kali ke daerah bandung, namun jika sedang sepi mungkin saya hanya mengirim tiga kali dalam seminggu. Daerah banjar dan sulawesipun saya kirim dua kali dalam sebulan jika sedang ramai dan satu kali dalam sebulan jika sedang sepi.”
“minggu lalu adalah minggu yang cukup lelah bagi saya dan para pekerja yang bekerja buat saya. Hari senin selasa dan rabu sudah dijadwalkan untuk pengiriman ke daerah Bandung. Namun yang paling membuat kami merasa harus mengejar target adalah pengiriman ke Banjar dan Sulawesi yang membutuhkan ribuan bungkus dalam minggu yang sama. Karena itu kami bekerja lembur hampir setiap hari. Bahkan saya melibatkan istri dan ketiga anak – anak membantu meski hanya untuk membeli pelastik yang untuk dijadikan bungkus tembakau olahan pabrik saya.”
“kesuksesan selalu berjalan bersama kerja keras yang tekun. Saya sendiri bukanlah orang yang gampang menyerah, hal itu bisa dilihat dari perjalanan perusahaan yang tidak sebentar. Kegagalan demi kegagalan sudah menjadi ukiran yang halus dari kesuksesan yang telah saya capai jika kesuksesan itu bisa kita anggap sebagai patung.”
“namun yang membuat saya kesal adalah kejadian hilangnya hasil produksi pada hari kamis. Awalnya saya pikir karena kesalahan penghitungan saja di hari sebelumnya. Karena itu saya memarahi pekerja saya karena kelalaiannya dalam menghitung tembakau yang sudah di produksi. Saya menyuruh dia untuk menghitung kembali dan menuliskannya di kertas lalu menyerahkannya kepada saya. Saya sendiripun menyempatkan untuk menghitung kembali dimalam hari sebelum saya pergi kekamar untuk tidur. Dan saya merasa kaget saat dipagi hari setelah shalat subuh melihat tembakau yang sudah saya hitung sudah berkurang kembali. Dan saya saat itu yakin jika ada seseorang masuk kerumah saya dan mencuri produksi pabrik saya.”
“sedikit saja barang yang melenceng dari perhitungan membuat produksi kami terhambat dan mengurangi keuntungan yang bisa saya dapatkan. Saya harus memproduksi kembali dan tentunya dengan waktu dan biaya tambahan. Namun saat itu saya terpaksa harus mengirim barang sebelum target produksi tercapai. Pastinya akan ada elanggan yang kecewa karena permintaan mereka tidak kami penuhi.”
“Jadwal saya minggu itu adalah mengirimkan barang ke daerah Bandung. Saya memberi pesan kepada sopir saya alasan jika nanti ada pelanggan kami yang komplain. Diapun berangkat untuk mengirim barang setelah saya mengisi bon barang kiriman. Sayapun berharap tidak ada pelanggan saya yang memerasa dirugikan nantinya. Bagi saya kepuasan pelanggan terhadap barang dan kinerja kami adalah sesuatu yang sangat penting.”
“setelah dia kembali seperti biasa saya beserta anak saya yang pertama memeriksa hasil penjualan kami pada hari itu. Kami memeriksa uang, dan bon agar tidak ada yang terlewatkan. namun saya sedikit kaget ternyata ada sedikit perubahan terhadap kuota barang yang kami kirim ke beberapa pelanggan. Setelah saya menanyakan hal tersebut kepada supir saya, ternyata ada pelanggan yang mengatakan barang kami masih ada jadi ia hanya meminta sedikit barang untuk menambah saja. Memang untuk pelanggan saya yang itu kami tidak terlalu berharap banyak karena sudah beberapa hari ini dia tidak menghubungi saya. Namun saya masih mengiriminya barang karena pada saat itu memang jadwal jalurnya. Sayapun tidak terlalu kecewa karena barang yang tidak dia ambil ternyata diambil oleh pelanggan saya yang lainnya yang kebetulan pada saat itu lebih membutuhkan.”
“kemarahan selalu masuk dalam diri saya selembut hidung bekerja untuk mengambil nafas. Para pekerja dan keluarga sayapun mendapatkan satu atau dua kemarahan saya itu. Saat Sore hari dari hari ketiga dari awal kejadian saya menghalangi jalan masuk belakang rumah saya dengan drum.”
“Saya yakin si pelaku memakai jalan belakang rumah saya. Karena memang jalan itulah yang paling masuk akal untuk menuju tempat penyimpanan tembakau. Untuk melewati jalan itu si pelaku harus melewati persawahan yang berputar cukup jauh dari rumah saya.”
“banyak jalan masuk untuk ke persawahan itu. Ada jalan masuk yang berasal dari kampung sebelah. Namun yang paling dekat adalah jalan masuk dari rumah kerabat saya. Yang jauhnya kurang lebih seratus meter dari rumah saya.siapapun yang ingin ke rumah saya dari jalan belakang harus berputar terlebih dahulu untuk menghindari rumah penduduk. Dan itu adalah kelemahan keamanan yang ada pada rumah saya.”
“setelah melewati persawahan terdapat dua kolam ikan yang berbentuk persegi panjang. Salah satunya memiliki luas sekitar lima puluh meter dan yang satunya lagi sekitar tujuh puluh meter. Diantara kedua kolam ikan tersebut terdapat jalan yang langsung menuju menuju pabrik. Lebar jalan tersebut kurang lebih satu meter dan di sana terdapat tiga pohon mangga kecil yang jarak diantaranya kurang lebih masing-masing 3 meter dan disanalah tempat dimana saya menyimpan tong untuk menghalangi jalan menuju pabrik.”
“setelah yakin sudah cukup untuk menghalangi jalan, saya kembali ke rumah dan beristirahat. Hari yang sangat melelahkan dengan semua pekerjaan dan pikiran yang seharian saya alami. Air hangat dan makan malam yang istri saya sediakan cukup untuk sementara mengisi tenaga saya, kemudian pada pukul delapan saya mengecek bagian belakang rumah saya dengan hati hati menggunakan senter yang saya pegang dengan tangan kanan dan kayu panjang yang ada di tangan kiri saya.tidak ada yang berubah dan yang saya rasa aneh telah terjadi disana. Setelah puas saya kembali masuk rumah dan pergi ke kamar untuk istirahat.”
“karena lelah, saya tidur pulas dan hampir enggan untuk bangun jika tidak untuk sholat subuh. Saya pergi ke mesjid dan meninggalka istri saya sholat di rumah sendirian. Setelah sholat, saya pulang ke rumah dan langsung memeriksa keadaan jalan belakang rumah yang kemarin sudah saya halangi sebaik mungkin. Menurut saya masih tidak ada perubahan yang berarti. Hal itu membuat saya sedikit lebih tenang karena bisa jadi tidak ada lagi kejadian yang membuat marah kembali. Namun hal itu berubah cepat setelah saya memeriksa dan menghitung kembali tembakau yang ada di dalam pabrik. Entah mengapa hitungan saya berbeda dari yang kemarin. Tidak puas satu dua kali, saya melakukannya sebanyak tiga kali dan masih saja berbeda dari hitungan yang kemarin. Tidak puas saya langsung membangunkan seisi rumah dan meminta anak saya yang kemarin ikut menghitung untuk menghitungnya kembali. Dan ternyata iapun merasa heran karena hitungannya sama seperti yang saya alami.”
“marah, kesal, dan bingung bercampur di kepala saya. Saya merasa kepala ini tidak sanggup untuk diberikan satu lagi beban yang mungkin saja membuatnya pecah. Bagaimana bisa dengan jalan yang saya halangi dan semua pintu terkunci dari dalam dengan sangat rapat. Bagaimana mungkin si pencuri masuk mengambil barang saya dan pergi dari sana tanpa meninggalkan jejak. Semua kemungkinan saya pikirkan, namun kepala yang panas ini tidak bisa diandalkan pada kondisi seperti itu. Anak-anak sayapun menyerah dan tidak menemukan bagaimana caranya si pencuri licik ini masuk dan mencuri tembakau saya. Seolah-olah ia mahluk gaib yang dapat menembus apapun untuk masuk dan keluar.”
“dengan saran dari istri, saya langsung menemui anda untuk meminta bantuan anda. Kecepatan informasi pada ibu ibu sangatlah cepat.” Kata pa Imran sambil mengatur posisi duduknya agar terasa lebih nyaman.
Sesaat terasa hening. Pa imran menatap penuh harap ke arah sahabatku Arthur untuk dapat membantunya. Arthur sendiri tenggelam bersama pikirannya dan sesaat kemudian menjawab permintaan Pa Imran.
 “Baiklah pa imran, kami akan membantu anda dalam masalah yang bapa sedang alami ini. Dan jika bapa berkenan, kami akan ke rumah bapa sore nanti. Ada beberapa hal yang ingin saya pastikan.”  Pinta Arthur pada Pa Imran
“terimakasih Arthur. saya sangat berterimakasih karena anda akan sangat saya butuhkan untuk memecahkan masalah yang sudah merusak dan membuat saya seperti ini.”
“sama-sama Pa Imran semoga anda tidak terlalu mendapatkan denda berlebihan untuk kreditan kendaraan anda.”
“bagaimana anda..”
“oh Pa Imran mungkin saran dari saya anda harus segera istirahat. Secangkir teh hangat akan membuat anda sedikit nyaman.”  Potongku sebelum Pa Imran menyelasaikan pertanyaannya.
Aku meminun secangkir teh yang mulai dingin karena sudah lama disimpan semenjak perbincangan kami sambil mempersilahkannya untuk meminum teh miliknya. Terlebih aku tidak ingin melihat wajah kemenangan yang muncul dari wajah arthur karena berhasil membuat orang lain heran. Mungkin inilah kenapa sebagian orang pintar ingin membuat orang lain terlihat bodoh. Mereka menyebutnya ‘Kepuasan Dari Tahu’
“oh ia terima kasih.” Pa Imran langsung meminum teh yang berada di depannya
Kami melakukan sedikit perbincangan setelah Pa Imran kami wawancara. Beberapa diantaranya mengenai jenis tembakau yang sering di tanam oleh petani di sekitar Sumedang. Aku baru tahu jika ada beberapa warna tembakau yang dihasilkan yang berasal dari beberapa cara pengeringannya. Beberapa diantaranya tembakau warna merah, putih, hitam dan kuning. Aku mulai mengaguminya dari perbincangan kami. Meskipun Pa Imran hanya lulusan SD, dia dapat memiliki wawasan yang sangat luas. Terbukti dari perkembangan perusahaan yang ia pimpin tidak mungkin jika seseorang dengan wawasan yang sedikit dapat bertahan dengan perusahaan tembakau yang saat ini berada dalam kesulitan dengan peraturan pemerintah yang memberatkan para pengusaha tembakau kecil dan menengah sepertinya. Bukan hanya itu, beliau juga dekat dengan beberapa tokoh penting  yang berada di daerah.
“oh ia maaf. Saya ada janji untuk mengirim barang dengan pelanggan tembakau saya dari Bandung. Mungkin lain kali kita bisa melanjutkan ngobrol hangat seperti ini.” pintanya
“baiklah Pa Imran, silahkan.” Jawabku
“sekali lagi saya ucapkan terimakasih Arthur. Saat ini rasanya permasalahan saya sudah mulai merasa ringan. Saya yakin anda pasti bisa menangkapnya. Dan oh terimakasih nandar. Teh buatanmu sangat enak,  kepala saya lebih ringan sekarang.”
Pa Imran pun pulang setelah perbincangan kami selesai. Sekarang dia sudah hilang dari pandangan kami melalui jalan masuk yang tadi ia lewati. Arthur kembali duduk dan berpikir sejenak sebelum saya kembali menikmati hangat perapian dia sudah mengagetkanku dengan teriakannya.
“tidak ada dua hal yang berlawanan dapat saling sentuh jika tidak ada hal yang membuatnya masuk akal.” Arhtur berteriak dengan gembira seperti seorang anak yang baru saja diberi mainan oleh orang tuanya
“baiklah kau sudah senang rupanya. Apa rencanamu selanjutnya?”
“oh ia, baiklah, tidak, menarik, oke sudah diputuskan.” Dia bicara sendiri sambil mondar mandir di depanku.
“apa yang kau lakukan?” tanyaku heran dengan yang dilakukannya
“oh maafkan aku karena sudah melupakanmu sahabatku.”
“tidak masalah. Jadi apa yang akan kita lakukan?”
“tidak ada. Aku akan kembali ke ruanganku dan melanjutkan apa yang sudah aku tinggalkan tadi.”
“oke, dan nanti sore kita akan ke rumah Pa Imrankan?”tanyaku untuk memastikan
“tentu, sesuai dengan yang aku katakan tadi.” Jawabnya padaku dan setelah itu ia masuk ke ruangannya.
Pada sore harinya kami pergi ke rumah Pa Imran sesuai dengan yang kami janjikan. Kami memeriksa tempat dimana stok tembakau disimpan. Memang sulit untuk masuk jika termpat tersebut di kunci dari dalam. Pintu yang terbuat dari kayu mahoni memang bukanlah bahan terbaik namun cukup kokoh dan sulit untuk dibuka dengan paksa oleh satu orang. Yang mengherankan adalah tidak ada tanda – tanda pernah dibuka secara paksa. Untuk kuncinya sendiri Pa Imran hanya menggunakan kunci slot yang terbuat dari besi. Disana terdapat dua jendela yang mengapit pintu keluar. Namun diantara pintu dan jendela yang satu terdapat jarak sekitar satu meter lebih. Dan jarang pintu dan jendela yang satunya lagi sekitar dua meter. Kedua jendela itu tanpa kaca hanya dihalangi oleh tralis besi yang berbentuk daimond. Hanya cukup dimasuki oleh satu tangan.
Di sudut tembol lainnya yang berhadapan dengan pintu keluar terdapat ventilasi kecil yang mungkin hanya dapat di masuki oleh satu orang, dan orang tersebut pastinya harus memiliki tubuh yang kecil. Dibalik ventilasi tersebut terdapat sungai yang memisahkan pabrik milik Pa Imran dengan beberapa rumah warga lainnya. Tinggi ventilasi sendiri jika dijangkau dari sungai tersebut kurang lebih sekitar delapan meter tingginya. Cukup berbahaya jika ada seseorang yang ingin masuk melewati ventilasi ini. Terlebih temboknya sendiri bergerigi tajam dan sangat licin.
Di dalamnya terdapat tempat penyimpanan tembakau dua tinggkat yang dibuat dari papan kayu. Ada juga dua meja buatan yang digunakan untuk mengolah tembakau. Pa Imran menjelaskan bahwa disanalah tempat pengolahan yang sekaligus tempat penyimpanan tembakau sebelum tembakau itu di kirim kepada semua pelanggannya.
“jadi disini tempat disimpan tembakaunya pa?” Tanyaku pada Pa Imran
“ia. Disinilah tempat semua tembakau yang karyawan saya olah. Diatas meja adalah tempat penggabungan antara tembakau kulit dan tembakau untuk sisi. Kemudian oleh mereka langsung dikemas kedalam bungkus yang sudah di cat oleh merk dagang kami, kemudian kami beri pita cukai perbungkusnya sebelum kami masukan kedalam wadah pelastik yang lebih besar.” Jelas Pa Imran sambil menunjukan tempat dimana biasanya produksi itu dilakukan.
Aku melihat lihat sekitar ruangan sambil sesekali melirik kearah sahabatku yang dari tadi berdiri di tengah ruangan. Ia belum melakukan penelitian yang berarti terhadap tempat kejadian ini. Dia hanya berdiam diri sambil memejamkan mata. Kemudian tidak lama kemudian dia berjalan ke arah ventilasi. Memeriksanya dan menjulurkan kepalanya keluar untuk melihat seberapa tinggi ventilasi tersebut dari sungai yang ada di bawahnya.
“apa anda sudah menanyakan warga tentang siapa yang pernah memakai kamar mandi itu pada saat kejadian?” tanya Arthur kepada Pa Imran sambil menunjuk arah dimana tempat tersebut
“aku tidak pernah menanyakannya secara langsung. Tapi anak pertamaku yang pernah menanyakannya. kebetulan mereka kemarin pernah datang kesini  untuk berbelanja perabotan rumah tangga, dan mereka mengaku tidak pernah melihat ada orang yang masuk melalui jalan ini.”jelas Pa Imran
Setelah puas memeriksa ventilasi Arthur mulai memeriksa pintu masuk. Dia menutup dan membuka pintu tersebut. Sesaat ia membiarkan pintu itu tertutup dan memandang serius pada pintu itu. Kemudian dia menoleh ke arah kedua jendela yang berada di sisi kanan dan kiri pintu itu.
“Apa kunci yang kau gunakan untuk menutup pintu ini? Salah satu atau keduanya?”tanyaku
“hanya dengan kunci slot yang kau lihat itu.”jawab Pa Imran “kunci pintunya sendiri sudah lama tidak berfungsi. Oleh karena itu saya hanya memakai kunci slot saja.”
Arthur menaiki papan yang merupakan tempat penyimpanan bahan baku tembakau. Dia mendongakkan kepalanya memeriksa langit langti yang ada. Terkadang dia duduk dari sana memandang kesegala arah ruangan.
“baiklah saya sudah selesai di sini tunjukan pada kami jalan yang Pa Imran katakan.” Kata Arthur
“baiklah. Ke arah sini.”ajak Pa Imran
Pa Imran menunjukan jalan yang terdapat diantara dua kolam ikan tersebut. Arthur memeriksa jalan yang masih dihalangi oleh drum itu. Ia melih secara serius terhadap jalan itu dari dekat. Memeriksa drum dan mencoba menggeser - geserkan drum itu. Drum itu terdengar sangat berisik jika di geser. Mungkin jika di dengar saat malam hari suara drum ini sangat mengganggu semua orang yang sedang istirahat.
“anda pernah mendengar kegaduhan seperti ini pada malam hari?”tanyaku
“tidak pernah. Jika ia, pastinya saya sendiri akan terbangun dan langsung berlari memeriksanya.”tegas Pa Imran
“baiklah. Sudah semua. Aku akan pulang.” Kata Arthur tiba tiba
 “sudah?” Pa Imran kecewa seakan mengharapkan sesuatu yang lainnya.
“kau yakin kita sudah melihat semuanya?” tanyaku
“sudah. Aku sudah memeriksa yang aku butuhkan. Baiklah jika anda mengijinkan Pa Imran sayan minta ijin karena ada hal lain yang ingin saya kerjakan.”
“anda yakin tidak ada yang anda periksa lagi?”
“saya melakukan apa yang saya butuhkan. Tidak ada yang  harus lakukan lagi disini saat ini.”
“baiklah, saya percaya sama anda jika anda yakin tidak ada lagi.”
Akhirnya kami kembali ke rumahku setelah memeriksa tempat kejadian itu. Arthur langsung masuk ke ruangannya dan tidak mengatakan apapun mengenai pemeriksaan tadi. Aku sendiri tidak kaget dengan tingkah lakunya karena sudah tahu bagai mana metode yang dia gunakan.
Pada malam harinyapun tidak ada perbincangan yang kami lakukan yang berhubungan dengan kasus yang sedang kami lakukan.  Kami makan malam bersama dan menghabiskan malam membicarakan perbincangan ringan mengenai pemilu yang sebentar lagi akan di laksanakan. Arthur sendiri lebih banyak mendengarkan pendapatku daripada memberikan pendapatnya. Memang dia tidak tertarik dengan dunia politik, dia hanya tertarik dengan hal-hal yang membuatnya bekerja sesuai yang dia harapkan. Setelah berbincang dia langsung masuk ke ruangannya , Aku sendiri langsung istirahat karena merasa sudah mulai lelah.
Pagi hari Hujan tidak turun seperti hari kemarin. Artur sudah pergi lebih awal sebelum sarapan. Dia tidak meninggalkan pesan apapun untukku. Aku sendiri memiliki banyak kerjaan yang harus aku selesaikan. Tugas kampus yang harus aku selesaikan dalam waktu satu hari cukup menyita pikiranku. Sedikit demi sedikit harus aku selesaikan hari ini.
-----/\/\/\-----
Tidak terasa sudah tiga hari Arthur tidak pulang ke rumah ini. Akupun bertanya dalam pikiran apa yang sedang dia lakukan selama beberapa hari dia pergi. Hingga pada pagi keempat dia pulang dengan wajah bahagia dia berteriak seakan sudah mendapatkan hadiah yang sangat dia inginkan.
 “akhirnya ada satu hal yang bermanfaat yang bisa menghiburku di pagi yang cerah ini. Pakailah baju favoritemu sahabatku. Kita akan sedikit berbelanja siang ini.” Diapun langsung masuk ke ruangannya
“belanja? Untuk apa? Kemarin aku sudah belanja untuk keperluan kita selama kau pergi. Dan seharusnya kemarin adalah tugasmu.” Tanyaku heran karena dia mengatakannya tiba tiba.
“maafkan aku karena sudah meninggalkan jadwal yang sudah kau buat. Tapi kita akan belanja untuk makanan ikan yang akan kita pancing untuk kali ini.” Kata arthur
Kami berangkat menggunakan mobilku ke satu daerah di kota Bandung. Seperti biasanya kota ini sedikit macet di beberapa titik. Banyak kendaraan yang saling menyelip dan banyak kendaraan umum yang berhenti sembarangan untuk menaikkan ataupun menurunkan penumpang. Terpikir olehku tentang banyaknya janji yang dilontarkan oleh pemerintah yang salah satunya mengurangi angka kemacetan. Mungkin mereka akan gagal jika masyarakatnya sendiri tidak ingin bersikap teratur.
Arthur sendiri lebih banyak diam di belakang. Berperan seperti seorang penumpang dan aku sendiri supirnya. Yah permainan majikan dan pekerja sepertinya masih berlanjut.
“hei, kenapa kau tidak duduk di depan?” kataku
“aku lebih suka di belakang. Kursinya lebih luas.”jawabnya
“oke, lalu kenapa kita kemari?”
“kau mungkin melewatkan sesuatu. Tapi menurutku kita akan mendapatkan umpan yang cocok untuk tangkapan kita di sini.”
Tidak lama kemudian kami berhenti di depan sebuah pasar tradisional. Kami turun dari mobil lalu berjalan beberapa meter hingga sampailah kami di suatu toko kelontongan yang menjual beberapa jenis tembakau mole. Salah satunya adalah tembakau mole yang di jual oleh Pa Imran.
Tokonya tidak terlalu besar. Mungkin hanya seluas 5x6 m2. Disana saat itu hanya ada satu orang lelaki paruh baya yang melayani para pembeli. Orang tersebut kira kira memiliki tinggi 160cm. Perawakannya tidak gendut tapi juga tidak bisa dibilang kurus. Rambutnya pendek dan sudah mulai ditumbuhi oleh beberapa helai uban. 
“pa saya temannya Deni, saya pernah mengantarkan barang ke tempat bapa.” Kata Arthur tiba-tiba.
“ia,” jawab penjaga toko itu sambil berpikir seolah ia tidak yakin dengan ingatannya sendiri.
“saya ingin menagih  hutang yang sudah bapa janjikan hari ini.”
“apa maksudnya ini? Saya sudah membayarnya lima hari yang lalu secara kontan. Semuanya sebanyak tiga bal.”
“tapi kata dia bapa belum membayarnya.” Arthur bersikeras dengan yang ia katakan
“kamu yang salah. Saya bilang saya sudah membayarnya.”
“oh, terima kasih.”  Jawab Arthur singkat kemudian ia pergi meninggalkan penjaga toko yang masih bingung dengan semua kejadian yang sangat tak terduga. Akupun menyusulnya dengan semua pertanyaan yang masih berada dikepalaku, bagaimana dia tahu tempat ini dan tadi ia bersikeras dengan apa yang ia katakan dan sekarang ia menyerah begitu saja.
“orang  tidak ingin ditanya dengan berlebihan. Mereka senang membantah terlebih jika mereka memang benar.”
“ayo kita pulang dan langsung ke rumah Pa Imran setelah makan malam. Kita harus makan secukupnya agar kita tidak mengantuk. Mungkin kita juga harus membawa beberapa pakaian yang hangat agar kita tidak terlalu kedinginan di cuaca seperti ini.”  Kata Arthur
------/\/\/\------
Itulah kisah yang bisa aku sampaikan hingga bagaimana kami bisa berdiam di rumah Pa Imran pada malam hari ini. Menunggu dengan menajamkan semua indra kami. Berharap kami dapat mendapatkan buruan kami. Aku sendiri mengumpulkan semua tenaga yang tersisa untuk selalu terjaga. Berdiam diri tanpa melakukan apapun seperti dalam kondisi seperti ini lebih menyebalkan dengan gangguan yang seri Arthur berikan padaku. Beberapa kali aku menyempatkan melirik keadaan Arthur yang sambil menutup matanya. Sejenak aku berpikir dia sudah tidur. Namun nafasnya yang teratur memberikan petunjuk bahwa dia masih sadar dengan semua indra yang ia persiapkan untuk perubahan yang mungkin saja terjadi secara tiba-tiba.
 Angin terasa lebih dingin dari sebelumnya. Seolah pakain tiga lapisku pun kurang memberikan kehangatan yang pantas pada tubuhku ini. Jam tanganku menunjukan pukul tiga dini hari. Keraguanku atas keberhasilan dari apa yang kami lakukan mulai merasuki keyakinanku.
 “kau mungkin sudah berencana seperti ini. Semua rencanamu kau persiapkan bersama solusi terhadap permaalahan yang akan kau temui. Namun selalu ada kekuatan lain yang bisa menghalangi rencanamu. Disanalah kesabaranmu akan diuji untuk sebuah hasil yang ingin kau dapatkan sahabatku.” Ucap Arthur pelan berusaha agar tidak lebih kencang dengan suara angin yang terdengar lebih jelas daripada saat kami tidak melakukan pengintaian seperti ini.
“dan sekarang kau tidak yakin dengan semua rencana yang susun untuk malam hari ini.” Kataku
Hari menjelang pagi. Malam ini kami tidak mendapatkan buruan kami. Hanya lelah menunggu semalaman yang kami dapatkan. Aku langsung pulang bersama Arthur setelah kami pamit. Sesaat aku lihat Arthur murunng, mungkin dia merasa kesal dengan semua perhitungannya yang saat ini tidak tepat.
Saat pulang Arthur hanya menghabiskan berdiam diri dan tidak mengatakan apapun. Dia hanya berdiam diri. Dalam perjalanan kami melewati beberapa kolam kecil yang sangat jelas terlihat dari dalam mobil. Beberapa kolam diantaranya sangat penuh dengan pemancing. Aku sendiri tidak terlalu suka memancing. Dulu aku pernah diajak memancing oleh temanku di kolam miliknya, akupun tidak terlalu banyak mendapatkan ikan. Sering sekali saat aku menarik pancingan yang terlihat sudah di makan ikan selalu lepas kembali. Dia memberitahuku bahwa aku mengangkat sebelum waktunya.
Saat hampir sampai ke rumah Arthur tiba tiba memintaku agar tidak langsung pulang. Dia memintaku untuk kembali membawa mobil untuk menuju toko yang pernah kami kunjungi. Selama perjalanan Arthur sibuk dengan catatan yang baru aku sadari dia bawa sesekali dia memeriksa seluler dan memberi pesan yang entah ia kirimkan pada siapa.
Setelah hampir sampai kami memarkirkan mobil di tempat yang sama seperti saat waktu itu.
“kita tunggu disini sebentar.”
“sebenarnya apa yang sedang kau rencanakan? Kita belum istirahat sama sekali.” Tanyaku
“kau istirahat saja dulu kalau begitu. Nanti akan aku bangunkan kalau sudah waktunya. Dan Pa Imran mungkin saja akan sampai ke sini pada waktunya setelah dia memeriksa tembakau yang mungkin dia baru akan sadari sudah ada yang hilang.”
Aku terkaget dengan apa yang dia katakan. Bagaimana mungkin hal itu terjadi terlebih semalaman kami berdua menunggu di sana. Dan tidak mendengar apapun.
“apa maksudmu? Tidak mungkin tembakau itu hilang? Bukankan kita ada disana.”
“mungkin kau harus menanyakan hal itu kepadanya.”
Tiba-tiba ada seseorang yang berjalan ke arah toko yang akan kami datangi. Dan betapa kagetnya saat aku lihat dia sedang membawa tembakau yang aku yakini milik Pa Imran.
“ayo kita keluar dan mengikutinya dari belakang sampai ke toko itu.”
“bagaimana kau tahu dia akan kesini sekarang?” heranku
 “Hidup ini penuh dengan puzzle, yang harus kau lakukan adalah menempatkan mereka pada tempatnya dan kau akan tahu pada akhirnya” jawabnya. “dan satu hal lagi, beberapa orang mencuri karena kebutuhan mereka, dan beberapa orang lagi mencuri karena keserakahan mereka. Tugas kita adalah menjaga diri dan orang sekitar dari keserakahan yang akan merusak dan merugikan diri kita dan orang lain”
Kamipun mengikutinya sampai toko itu dan sebelum dia memberikan tembakau itu, Pa Imran datang bersama supirnya beserta anak keduanya. Dia datang dengan heran beserta kesal karena tahu orang yang menjadi pencuri yang membuatnya kesal adalah Deni yang tidak lain adalah kerabat dekatnya.
“aku tahu kalian semuanya heran dan memiliki banyak pertanyaan yang sangat ingin kalian tanyakan. Aku sendiri tidak suka untuk menjelaskannya dua kali. Nanti akan ku sampaikan setelah aku pulang dan beristirahat terlebih dahulu.”
Aku dan Arthur pulang terlebih dahulu meninggalkan Pa Imran dan yang lainnya untuk menyelesaikan sisanya di toko tersebut.
“Mungkin akan nyaman saat pulang aku mandi dengan air hangat.”katanya dan setelah itu dia terlelap tidur hingga kami sampai di rumah.

--------------TAMAT----------------